A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: fopen(/opt/alt/php71/var/lib/php/session/ci_sessiond80487cb0a49e8ed4b74333d5fd9b7924b2cb1c5): failed to open stream: Disk quota exceeded

Filename: drivers/Session_files_driver.php

Line Number: 176

Backtrace:

File: /home/dont6524/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 8
Function: __construct

File: /home/dont6524/public_html/index.php
Line: 275
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: session_start(): Failed to read session data: user (path: /opt/alt/php71/var/lib/php/session)

Filename: Session/Session.php

Line Number: 143

Backtrace:

File: /home/dont6524/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 8
Function: __construct

File: /home/dont6524/public_html/index.php
Line: 275
Function: require_once

Doni Winarso - Professional Software Developer & Lecturer

Langit Pekanbaru Menghilang di Balik Asap, Ancaman Serupa Meluas di Sejumlah Wilayah Indonesia

 

PEKANBARU — Selasa pagi, 25 Agustus 2026, warga Pekanbaru kembali terbangun dengan pemandangan yang mengkhawatirkan. Langit tampak kelabu, udara berbau asap, dan bangunan di kejauhan perlahan menghilang dari pandangan. Kabut asap yang sebelumnya datang dan pergi kini semakin pekat—membawa kembali ingatan tentang bencana lingkungan yang pernah melumpuhkan berbagai aktivitas masyarakat.

Berdasarkan pemantauan BMKG, jarak pandang di Kota Pekanbaru menyusut hingga sekitar dua kilometer. Kondisi serupa juga terpantau di Rengat dengan jarak pandang sekitar dua kilometer, Tambang tiga kilometer, dan Pelalawan lima kilometer.

Namun, persoalan yang lebih serius bukan hanya terbatasnya jarak pandang. Konsentrasi partikel halus PM2.5 di Pekanbaru dilaporkan sempat mencapai 508,8 mikrogram per meter kubik pada Selasa sekitar pukul 01.00 WIB. Angka tersebut menempatkan kualitas udara pada kategori berbahaya dan dapat memengaruhi kesehatan seluruh kelompok masyarakat, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita gangguan pernapasan dan penyakit kronis.

Ribuan Titik Panas Mengepung Sumatra

Pekatnya asap di Pekanbaru tidak berdiri sebagai peristiwa tunggal. Pemantauan pada Senin, 24 Agustus 2026, mendeteksi sekitar 2.193 titik panas di Pulau Sumatra.

Sumatra Selatan menjadi wilayah dengan jumlah titik panas tertinggi, mencapai 1.207 titik. Riau berada di posisi berikutnya dengan 393 titik, disusul Jambi 262 titik, Lampung 138 titik, Bangka Belitung 77 titik, Kepulauan Riau 57 titik, Bengkulu 19 titik, Sumatra Utara 18 titik, Sumatra Barat 13 titik, dan Aceh sembilan titik.

Di Provinsi Riau, titik panas terbanyak terdeteksi di Kabupaten Pelalawan dengan 153 titik dan Indragiri Hilir sebanyak 140 titik. Titik panas lainnya tersebar di Bengkalis, Indragiri Hulu, Kampar, Siak, Rokan Hulu, Kepulauan Meranti, Pekanbaru, dan Kuantan Singingi.

Sebaran tersebut memperlihatkan bahwa kabut asap yang menyelimuti Pekanbaru bukan hanya persoalan satu kota. Asap dapat bergerak mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga kebakaran yang terjadi di wilayah sekitar dapat berdampak langsung terhadap kualitas udara di pusat ibu kota Provinsi Riau.

Ketika Udara Mulai Mengancam Kesehatan

Dampak kabut asap mulai terlihat pada kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru mencatat sedikitnya 376 kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA sejak awal Agustus 2026. Jumlah tersebut berpotensi bertambah apabila paparan asap terus berlangsung.

Partikel PM2.5 menjadi ancaman utama karena ukurannya sangat kecil. Partikel ini dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan, mencapai paru-paru, bahkan berpotensi memasuki aliran darah. Paparan dalam jumlah tinggi dapat memicu batuk, sesak napas, iritasi mata dan tenggorokan, memperburuk asma, serta meningkatkan risiko gangguan jantung dan paru-paru.

Kabut asap juga mulai memengaruhi kegiatan pendidikan. Sejumlah satuan pendidikan keagamaan di Pekanbaru telah diarahkan melaksanakan pembelajaran dari rumah sebagai langkah perlindungan terhadap peserta didik. Masyarakat juga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker yang mampu menyaring partikel halus apabila harus bepergian.

Bukan Hanya Riau

Ancaman kebakaran hutan dan lahan kini membayangi beberapa wilayah Indonesia. Selain Riau dan Sumatra Selatan, kebakaran dan peningkatan titik panas juga terpantau di Jambi serta sejumlah provinsi di Kalimantan.

Kondisi ini diperparah oleh musim kering dan penguatan El Niño yang menyebabkan suhu lebih panas serta curah hujan berkurang. Lahan gambut yang mengering menjadi sangat mudah terbakar. Apabila api telah masuk ke lapisan bawah gambut, proses pemadaman menjadi jauh lebih sulit karena bara dapat bertahan dan menyebar di bawah permukaan tanah.

Kebakaran hutan dan lahan sepanjang Juli 2026 dilaporkan telah merusak hampir 95.000 hektare lahan di Indonesia. Asap dari kebakaran tersebut bahkan mulai memengaruhi kualitas udara di negara tetangga, sehingga bencana ini tidak lagi hanya menjadi persoalan lokal, tetapi telah berkembang menjadi ancaman lingkungan regional.

Pemadaman Berpacu dengan Waktu

Petugas gabungan terus melakukan pemadaman melalui jalur darat dan udara. Operasi penyiraman dari udara, patroli titik panas, hingga modifikasi cuaca dilakukan untuk mencegah api menyebar lebih luas. Akan tetapi, luasnya wilayah terdampak serta sulitnya menjangkau lokasi kebakaran di kawasan gambut menjadi tantangan besar.

Kini, masyarakat menunggu bukan sekadar datangnya hujan, tetapi juga tindakan tegas untuk menemukan dan menghentikan sumber kebakaran.

Sebab, setiap kali langit Pekanbaru menghilang di balik asap, pertanyaan lama kembali muncul: sampai kapan masyarakat harus membayar mahal akibat kebakaran yang terus berulang?

Kabut asap mungkin terlihat seperti persoalan musiman. Namun, ketika udara bersih berubah menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan, bencana ini seharusnya tidak lagi dianggap sebagai kejadian biasa.

Masyarakat disarankan memantau informasi kualitas udara dari sumber resmi, mengurangi kegiatan di luar ruangan, menutup pintu dan jendela ketika asap semakin pekat, menggunakan masker yang sesuai, serta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas, nyeri dada, atau gangguan kesehatan lainnya.

Sumber data: BMKG, Media Center Riau, ANTARA, dan Reuters.

D'Win